Setelah ini aku akan Share Biodata Team J :)
Ini Cerita Si Bukan Aku Yang buat tapi aku copas , aku bantu share .
Semoga kalian suka ya ^^
Sepatu Milik Stella
Sepatu
Milik Stella
Sore,
di sebuah sekolah menengah atas yang cukup mewah, didalam sekolah itu terdapat
kolam ikan dan taman kecil. Kelas yang ada di lorong terdapat loker didepan
kelas itu. Papan mading terhias oleh beberapa karya dari murid. Dari ujung
lorong, terlihat seorang gadis putih, tidak tinggi, berambut indah hitam,
berparas cantik. Ia berjalan memperhatikan kiri dan kanan kelas sekelilingnya.
Ia terpana melihat sebuah kelas. Diliriknya dari jendela kelas itu. Kemudian gadis
itu berjalan lagi menuju sebuah mading. Ia menatap haru isi mading itu. Ia
menatap sebuah foto dengan tulisan “Class of 48”. Di foto itu, terlihat seorang
murid yang mirip sekali dengan gadis itu.
*
“Hai
Stella” Ucap seorang pria kepada seorang murid perempuan.
“Eh,
Kiki, belum pulang?” Tanya murid perempuan itu.
“Belum,
Stel. Kok belum pulang?” Tanya Kiki.
“Nunggu
dijemput Mamah, Mamah lagi jemput adekku.” Jawab Stella.
“Hem...
Gak berasa yah, udah kelas 3, Ujian Akhir, lulus deh.” Ujar Kiki.
“Iya,
padahal dulu pas MOS angkatan kita, kamu tuh paling cupu.” Ledek Stella.
“Tapi
suka kan?” Goda Kiki.
“Iya,
suka ngetawain kamu sama temen – temen.” Lanjut Stella.
“Makan
yuk.” Ajak Kiki.
“Di
Ayam Goreng Kang Adam yah, hehe.”
Kiki
hanya mengangguk memenuhi permintaan Stella. Mereka berdua berjalan menuju Ayam
Goreng Kang Adam di sebrang sekolah.
Kiki
dan Stella duduk bersebelahan.
“Kang,
aku biasa pesennya...a...” Sebelum Stella selesai bicara, Kiki memotong.
“Ayam
goreng, sambelnya dipisah. Minumnya Es Milo yang manis yah.” Ucap Kiki.
“Kok,
kamu masih afal?”
“Dulu
pas MOS nginep kan kamu sampe gamau makan, maunya ayam goreng.”
Stella
tertawa pelan. Setelah menunggu beberapa lama, seorang pelayan mengantarkan
pesanan milik Stella dan Kiki. Stella menghabiskan Ayam goreng pesanannya
dengan lahap hingga bibirnya belepotan makanan. Kiki mengambil tissue dan
mendekati bibir Stella.
“Gak
usah kayak Ftv deh.” Mengambil tissue itu.
“Kamu
makannya belepotan, Stel.” Ucap Kiki.
“Ya
kamunya gak usah sok ngelapin gitu kayak di Ftv.” Lanjut Stella.
“Aku
maunya cerita kita ini jadi Ftv, atau gak novel, cerpen juga boleh sih.”
Stella
menimpuk tissue kotor itu ke muka Kiki. Kiki membalasnya. Mereka berdua
bercanda bersama sehabis makan. Suasana sore depan sekolah itu menemani mereka.
*
Gadis
yang sedang menatap mading itu melanjutkan langkahnya ke sebuah ruangan. Dari
ruangan itu keluar sebuah pria, yang lebih tua darinya.
“Eh
kamu... tumben main kesini.” Ucap pria itu.
“Pak
Juni..” Ucap gadis itu.
“Udah
besar yah kamu semenjak lulus. Gimana kuliahnya? Makin pinter kan kamu?”
“Yaa
lumayan lah pak, hehe.”
“Udah
mau lulus kan kamu kuliahnya?” Tanya Pak Juni.
“Hampir
Pak, doain yah.”
“Guru
– guru sini selalu doain muridnya. Kamu masih ketemu sama siapa tuh, teman
cowok kamu pas dulu?”
“Siapa,
Pak?”
“Duh,
Bapak lupa. Yang baik banget sama kamu ituloh.”
*
Suasana
sekolah siang itu ramai. Beberapa murid berpelukan di area sekolah. Sekumpulan
murid histeris kegirangan menatap papan mading. Di papan mading itu, tertulis
nama siswa beserta nilai kelulusan ujian akhir mereka.
Stella
mencari namanya. Ia tak berkata - kata.
Dari belakang, Kiki meledek.
“Enak
yah kamu, namanya udah pasti paling atas.”
“Ah,
Kiki. Aku seneng banget...” Ucap Stella.
“Sini
peluk Kiki.”
Stella
hanya tertawa cekikikan mendengar permintaan Kiki. Beberapa teman menghampiri
mereka untuk ikut mencoret – coret seragam mereka. Stella ditarik temannya.
Semua murid saling mencoret dan menandatangani seragam mereka. Kiki bersama
teman – temannya pun mencoret pakaian mereka dengan spidol.
Stella
yang duduk dekat kolam ikan terlihat murung. Ia hanya memakai sebelah
sepatunya.
“Stel,
sepatunya kemana?” Tanya Kiki.
“Copot
sebelah, tadi pas desek – desekan.”
“Kayak
cinderella kesiangan deh kamu.”
“Ih
malah ngeledek. Ntar pulang sendiri, Mamah gak jemput.” Rengek Stella.
Kiki
mencopot sepatu Sneakers miliknya dan memberikannya ke Stella.
“Ha?
Kenapa, Ki?”
“Kamu
pake nih, daripada pulangnya repot.”
“Serius
kamu?”
“Iya,
aku sih seneng sepatuku dipake Cinderella kesiangan.”
“Ih...
mau ngeledek apa nolongin aku sih?”
“Maunya
selalu ada buat kamu.”
“Gombal.”
“Itumah
yang dikolong jembatan.”
Stella
dan Kiki berjalan menuju dekat lapangan sekolah. Murid lain masih asyik
mencoret baju mereka. Kiki berjalan memakai kaos kaki.
“Ki,
kita belum tanda tanganin seragam kita yah?”
“Iya
nih, tapi seragam kamu udah penuh semua, Stel.”
Stella
mengangkat kerah bajunya, ia memberikan spidol ke Kiki dan membalikkan
badannya.
“Nih,
selalu ada tempat buat kamu.”
Stella
memberikan kerah belakangnya untuk di tanda tangani Kiki. Kiki menandatangani
kerah Stella.
“Ki,
bajumu udah penuh semua, aku tanda tangan dimana?”
“Nih,
disini.” Kiki menyobek kantong seragam yang ada lambang OSIS.
“Tanda
tangan disini, Stel.” Kiki menunjuk dada kirinya dan memberikan spidol.
“Tempat
buat kamu tuh ada disini.” Ucap Kiki sambil menunjuk dada kirinya.
Stella
memberi tanda tangan di dada kiri Kiki. Mereka berdua saling tersenyum.
Kiki
dan Stella berjalan keluar gerbang sekolah. Kiki masih menyeker dengan kaos
kakinya, Stella memakai sepatu Kiki.
“Naik
taksi kan kamu, Stel?”
“Iya,
temenin nyari yah.”
“Eh
iya, kalo udah kuliah nanti, kita masih bisa ketemu lagi gak yah?”
“Harus
bisa, aku kan mau balikin sepatumu ini.”
“Kalo
kamu simpen aja mau gak? Anggep sebagai benda berharga.”
“Benda
berharga tuh yang bagusan dikit kek.” Keluh Stella.
“Yang
ngasih benda itu emang gak berharga buat kamu?”
Stella
hanya diam. Ia masih melirik jalan raya untuk mencari taksi yang lewat.
“Nyari
taksi susah amat, kayak nyari jodoh.” Keluh Stella.
“Jodoh
emang di tangan Tuhan, tapi nyarinya pake tangan kita.” Balas Kiki.
“Yee...
Eh, tapi makasih yah, aku pinjem dulu sepatu kamu.”
Kiki
hanya mengangguk. Tidak lama taksi datang dan Kiki menyetop. Stella masuk ke
taksi dan sempat melambaikan tangannya ke Kiki.
*
Pak
Juni dan gadis itu berjalan mengelilingi sekolah. Saat melangkah, Pak Juni
melihat sepatu yang digunakan gadis itu.
“Kamu
itu mahasiswi cantik, kok sepatu kayak gitu masih dipake?” Tanya Pak Juni.
“Yah...
abisnya ini berharga, Pak.”
“Berharga?
Kok bisa?”
“Yang
ngasih ini berharga buat saya.”
Pak
Juni hanya tersenyum. Mereka melanjutkan langkahnya ke lorong sekolah. Disana
terlihat sebuah kelas yang cukup besar, lengkap beserta isinya. Pak Juni
membuka kelas itu.
“Kamu
tuh kalo reuni gak pernah absen yah, dateng terus.”
“Iya.”
“Siapa
yang kamu cari memangnya?”
“Semua
teman – teman angkatan saya, Pak.”
*
Di
sebuah ruangan kelas, terlihat keramaian muda – mudi memakai pakaian trendy.
Stella berdiri sambil sibuk memegang telepon genggam.
“Gelisah
banget, Stel.” Ucap seorang gadis.
“Ha?
Enggak kok.” Balas Stella.
“Kiki
yah?”
Mendengar
nama Kiki, Stella hanya menghembuskan nafas dan menghelanya agak panjang.
“Dia
kemana sih, ini reuni ketiga setelah angkatan kita lulus, dia gak pernah
keliatan, kemana ya dia, Stel?”
“Gak
ngerti deh. Tiap dua tahun sekali nungguin buat ketemu dia.” Keluh Stella.
“Capek
gak nungguin dia?”
“Gak
sih, malah makin semangat. Tapi, dua tahun kemudian apa masih bisa ketemu dia
yah?”
“Pertemuan
selanjutnya gak akan sleama itu kayaknya.”
*
Pak
Juni dan gadis itu berhenti langkahnya di dekat lapangan sekolah. Daun
berguguran dan berserakan di sekitarnya. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya.
“Tempat
ini kan biasanya tiap angkatan sekolah ini...” Ucap Pak Juni.
“Ngasih
tanda tangan dan benda berharga mereka, Pak.”
“Kamu
masih nunggu orang itu?” Tanya Pak Juni.
“Masih.
Tapi apa saya harus balik ke sekolah ini dua tahun lagi?”
“Bapak
rasa pertemuan selanjutnya gak akan selama itu.”
Pak
Juni meninggalkan gadis itu berdiri sendiri. Gadis itu merenung, menatap
sekelilingnya. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Tali sepatunya
terlepas sebelah. Ia jongkok dan merapikan tali sepatunya dan mengikatnya. Ia
berdiri dan bergumam.
“Mungkin
bukan hari ini, lagi.” Keluhnya.
Gadis
itu berjalan kearah sebaliknya sambil menunduk. Ia merunduk dengan tatapan
kecewa. Langkahnya pelan. Dari arah berlawanan, ada seorang pria, cukup tampan,
dengan pakaian rapih tersenyum kearah gadis itu dan berteriak.
“Makan
ayam goreng yuk, sambelnya dipisah, sambil minum es milo.” Ucap pria itu.
Si
gadis menoleh ke belakang. Ia diam, lalu tersenyum. Tatapannya penuh arti. Ia
menghampiri pria itu. Kini si gadis dan pria berhadapan, cukup dekat. Mata
mereka saling memandang.
“Aw..”
Ucap si gadis.
“Eh,
maaf...sepatunya..” Balas si pria.
“Masa
gantian sekarang aku yang nyeker?”
***
***

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking